Songs of the week ….

June 17th, 2006 by kevinsidharta
What a week .... 
and these two songs, one old song and a very latest song,
with beautiful music, perfectly ease my mind ...
PENGGALAN KISAH LAMA
by La Luna
DM7      F#m          GM7
Berdegup     kencang oh hatiku
DM7   F#m  GM7
Berhenti  denyut nadiku
DM7 F#m Bm GM7  Bm A7 F#m
Kuterpaku tak bicara
     Bm        GM7  Bm A7
Saat kau sentuh bibir ini

DM7         Am7          GM7
Kau bukanlah yang terbaik untukku
DM7           Am7           GM7
Karna kau tak bisa melumpuhkan hatiku
       DM7    Am7            GM7
Kau hanya sepenggal kisah dalam waktu
       DM7     Am7       GM7
Yang kulalui dan takkan ku lupakan

DM7               GM7
Melayang rasa oh hatiku
DM7                GM7
Mengganggu waktu tidurku
DM7                GM7
Gelisah dan hatiku gundah
DM7                GM7
Berangan tuk kesekian kali 
Simpan Saja
by Ecoutez!
Slalu saja kau dapat membuatkuMaafkan salahmuDan kini kau ulangiSalahmu yang itu itu saja

Kecewa ku dibuatmuTerluka karna sifatmuDan kini ku tak mampuBertahan lagi

Kuakui dirimu pernah berartiDan memang hidupku hampa tanpamunamun lebih baik aku sendiri

Simpan saja rasa di hatimuSudah lupakanHasratku sudah tak lagi saling cintaSudah sampai di sini

Nasirudin, antara harta dan kebijaksanaan

September 9th, 2005 by kevinsidharta
Satu hari, Nasirudin yang terkenal bijak sampai di satu kota. Di sana ia bertemu orang terkaya. Orang ini hendak mengetes Nasirudin dengan sengaja bertanya kepadanya: mana yang kau minta, hai orang bijak, harta atau kebijaksanaan. Nasirudin dengan lantang menjawab: Harta. Kontan si orang terkaya mengejeknya: Kamu ternyata materialistis dan kurang pandai. Seluruh kota juga bingung pada jawaban Nasirudin. Setelah diejek, Nasirudin berkata sesuatu yang membuat semua terdiam. Apakah kira2 kata-kata Nasirudin yang membungkam seisi kota ???
Nasirudin mengatakan demikian: "Kamu mencari sesuatu yang kamu tidak punya"

Asal Usul Nama Indonesia

September 9th, 2005 by kevinsidharta

Asal Usul Nama Indonesia
Oleh IRFAN ANSHORY

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini * Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekali pun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau "Hindia Timur" *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)*. Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch-Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin *insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer. Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa* (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" * (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia* atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.*

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago.* Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.* Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel* sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch-Indie* tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau.*

Makna Politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging*) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club* pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku!***

*Penulis,* *Direktur Pendidikan "Ganesha Operation"*

Indonesia Raya ….

August 16th, 2005 by kevinsidharta
Did u know that the Indonesia Raya, our national anthem, has three couplets? I just found out today through the below article. I don’t know whether I am the only one who does not know this fact, but I don’t have any recollection of learning this fact from my history lesson. Anyway … happy 60th anniversary to Indonesia. Hopefully what said in the 2nd and 3rd couplets of Indonesia Raya would someday come true …
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/16/nasional/nas12.htm

Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"

HAMPIR setiap kali ada upacara resmi, lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan. Namun, barangkali tidak banyak yang menyadari, yang dinyanyikan hanyalah sepertiga dari seluruh lagu karya WR Soepratman itu. Tidak cukup jelas alasannya, tetapi itulah yang terjadi selama ini. Bahkan sebagian besar dari kita tidak merisaukan, jarang sekali atau mungkin tidak pernah, menyanyikan lagu kebangsaan secara utuh.

Bisa saja berkilah, kalau lagu kebangsaan dinyanyikan utuh akan terasa panjang, karena terdiri atas tiga stanza atau couplet, sehingga cukup stanza pertama saja yang dinyanyikan. Padahal, kalau dinyanyikan penuh, lagu ini membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Atau sekitar tiga menit untuk setiap stanza dengan dua kali menyanyikan bagian refrain untuk setiap stanza.

Jika waktu merupakan alasan, begitu tinggikah bangsa ini menghargai waktu sehingga enam atau tujuh menit tak mau dipakai menyanyikan lagu kebangsaan? Padahal, kita sehari-hari menyaksikan bagaimana waktu dibuang sia-sia? Kekacauan pengaturan lalu lintas menimbulkan kemacetan, acara-acara tak dimulai tepat waktu, birokrasi lamban mengerjakan administrasi, proses perizinan yang panjang. Dan perlu dicatat Indonesia Raya bukanlah satu-satunya lagu kebangsaan yang panjang di antara lagu kebangsaan di dunia.

Atau sebenarnya kita telah terbiasa hidup dalam iklim yang korup, sehingga simbol negara yang penting pun kita "korup"? Tiga simbol penting bagi negara adalah bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Predikat sebagai salah satu negara terkorup di dunia memang makin lengkap, bahkan lagu kebangsaan pun dikorup. Abai pada dua stanza lagu kebangsaan mungkin cermin yang lebih nyata tentang sikap kita pada kebangsaan, dan cita-cita berdirinya negara ini.

Barangkali ada pula pihak-pihak yang memandang simbol-simbol seperti itu sudah tidak diperlukan lagi dalam zaman modern ini. Namun, justru yang patut dicermati, bukan masalah simbol yang tak diperlukan, tetapi kegagalan menangkap esensi dan makna simbol tersebut yang sebenarnya terjadi. Dan justru hal ini yang berbahaya.

60 Tahun Diabaikan

Dalam peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia kali ini sangat mungkin kita juga akan mengabaikan dua stanza terakhir lagu kebangsaan kita. Ada yang menyebutkan jangankan dua stanza yang diabaikan, stanza pertama yang dinyanyikan setiap upacara resmi saja mungkin tidak dihayati maknanya. Maka yang ingin disuguhkan di sini adalah apa isi dua stanza yang berpuluh tahun kita abaikan itu.

Dalam usia 60 tahun kemerdekaan, kita sekarang justru menghadapi masalah-masalah yang serius berkaitan dengan kohesi setiap individu dan komponen sebagai satu bangsa, satu negara yang mempunyai cita-cita bersama. Tidak mengherankan jika diskriminasi masih terjadi di negara yang didirikan dengan cita-cita mewujudkan martabat manusia.

Dalam usia yang sudah cukup matang, bangsa ini justru berkutat dengan masalah korupsi yang mencerminkan rapuhnya solidaritas, rasa kebangsaan dan kebersamaan. Suatu kondisi yang sangat kontras dengan awal kemerdekaan di mana orang mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama: sebuah bangsa yang merdeka. Kita juga menghadapi masalah demokrasi dan akuntabilitas dalam pemerintahan yang juga mencerminkan cita-cita kemerdekaan dan pengorbanannya tengah dicampakkan oleh mereka yang rakus kekuasaan.

Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang justru yang ditekankan dua stanza lagu kebangsaan yang kita abaikan.

Inilah yang kita abaikan selama ini: (stansa ke-2): Indonesia tanah yang mulya, tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berada untuk selama-lamanya. Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita berdoa: Indonesia bahagia. Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya, semuanya. Sadarlah hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya.

(Stanza ke-3) Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku berdiri m’jaga Ibu sejati. Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi. Marilah kita berjanji: Indonesia Abadi. Slamatlah tanahnya, slamatlah puteranya, pulaunya, lautnya, semuanya. Majulah negerinya, majulah pandunya untuk Indonesia Raya.

Apa yang terjadi dalam kurun 60 tahun kita abaikan dua stanza ini. Tanah tak lagi subur, juga jiwa kita. Hati kita kering dan negeri ini dipenuhi konflik, bahkan berkekerasan dan berkepanjangan, karena budinya yang makin rendah.

Pada stanza kedua kita makin merasa prihatin, karena tak banyak yang mau berjanji Indonesia abadi. Akibatnya tak selamat tanah kita, banyak pencemaran, makin tak subur dan hutannya dijarah semena-mena.

Nasib para putra bangsa diabaikan, pulaunya hilang, lautnya dijarah nelayan-nelayan asing. Negeri ini tertinggal dari negeri lain, dan kita mengalami krisis pandu (pemimpin).

Sampai kapan kita akan mengabaikan dua stanza itu, yang juga bisa berarti mengabaikan cita-cita kemerdekaan?

Pembaruan/Sabar Subekti


first time blog

March 24th, 2005 by kevinsidharta
This is my first blog.
Today I managed to visit 2 interesting link.
First, my friend told me the new website of one of the prestigious law firms in jakarta:http://www.dnc-advocates-at-work.com/
Nice lay out, rich of info … but don’t really like the way of reading the info … the scrolling is too fast.
Second, I got an interesting article on the field of finance, entitled:
Do Domestic Investors Have an Information Advantage? Evidence from Indonesia  forthcoming in the Journal of Finance, April 2005, available at: http://www.union.edu/PUBLIC/ECODEPT/dvorakt/research/index.htm.
I wonder if it can also be concluded that the insider tradings occur much more within the domestic investors than within foreign investor …