Archive for August, 2005

Indonesia Raya ….

Tuesday, August 16th, 2005
Did u know that the Indonesia Raya, our national anthem, has three couplets? I just found out today through the below article. I don’t know whether I am the only one who does not know this fact, but I don’t have any recollection of learning this fact from my history lesson. Anyway … happy 60th anniversary to Indonesia. Hopefully what said in the 2nd and 3rd couplets of Indonesia Raya would someday come true …
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/16/nasional/nas12.htm

Lagu Kebangsaan "1/3 Indonesia Raya"

HAMPIR setiap kali ada upacara resmi, lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan. Namun, barangkali tidak banyak yang menyadari, yang dinyanyikan hanyalah sepertiga dari seluruh lagu karya WR Soepratman itu. Tidak cukup jelas alasannya, tetapi itulah yang terjadi selama ini. Bahkan sebagian besar dari kita tidak merisaukan, jarang sekali atau mungkin tidak pernah, menyanyikan lagu kebangsaan secara utuh.

Bisa saja berkilah, kalau lagu kebangsaan dinyanyikan utuh akan terasa panjang, karena terdiri atas tiga stanza atau couplet, sehingga cukup stanza pertama saja yang dinyanyikan. Padahal, kalau dinyanyikan penuh, lagu ini membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Atau sekitar tiga menit untuk setiap stanza dengan dua kali menyanyikan bagian refrain untuk setiap stanza.

Jika waktu merupakan alasan, begitu tinggikah bangsa ini menghargai waktu sehingga enam atau tujuh menit tak mau dipakai menyanyikan lagu kebangsaan? Padahal, kita sehari-hari menyaksikan bagaimana waktu dibuang sia-sia? Kekacauan pengaturan lalu lintas menimbulkan kemacetan, acara-acara tak dimulai tepat waktu, birokrasi lamban mengerjakan administrasi, proses perizinan yang panjang. Dan perlu dicatat Indonesia Raya bukanlah satu-satunya lagu kebangsaan yang panjang di antara lagu kebangsaan di dunia.

Atau sebenarnya kita telah terbiasa hidup dalam iklim yang korup, sehingga simbol negara yang penting pun kita "korup"? Tiga simbol penting bagi negara adalah bendera, lambang negara, dan lagu kebangsaan. Predikat sebagai salah satu negara terkorup di dunia memang makin lengkap, bahkan lagu kebangsaan pun dikorup. Abai pada dua stanza lagu kebangsaan mungkin cermin yang lebih nyata tentang sikap kita pada kebangsaan, dan cita-cita berdirinya negara ini.

Barangkali ada pula pihak-pihak yang memandang simbol-simbol seperti itu sudah tidak diperlukan lagi dalam zaman modern ini. Namun, justru yang patut dicermati, bukan masalah simbol yang tak diperlukan, tetapi kegagalan menangkap esensi dan makna simbol tersebut yang sebenarnya terjadi. Dan justru hal ini yang berbahaya.

60 Tahun Diabaikan

Dalam peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia kali ini sangat mungkin kita juga akan mengabaikan dua stanza terakhir lagu kebangsaan kita. Ada yang menyebutkan jangankan dua stanza yang diabaikan, stanza pertama yang dinyanyikan setiap upacara resmi saja mungkin tidak dihayati maknanya. Maka yang ingin disuguhkan di sini adalah apa isi dua stanza yang berpuluh tahun kita abaikan itu.

Dalam usia 60 tahun kemerdekaan, kita sekarang justru menghadapi masalah-masalah yang serius berkaitan dengan kohesi setiap individu dan komponen sebagai satu bangsa, satu negara yang mempunyai cita-cita bersama. Tidak mengherankan jika diskriminasi masih terjadi di negara yang didirikan dengan cita-cita mewujudkan martabat manusia.

Dalam usia yang sudah cukup matang, bangsa ini justru berkutat dengan masalah korupsi yang mencerminkan rapuhnya solidaritas, rasa kebangsaan dan kebersamaan. Suatu kondisi yang sangat kontras dengan awal kemerdekaan di mana orang mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bersama: sebuah bangsa yang merdeka. Kita juga menghadapi masalah demokrasi dan akuntabilitas dalam pemerintahan yang juga mencerminkan cita-cita kemerdekaan dan pengorbanannya tengah dicampakkan oleh mereka yang rakus kekuasaan.

Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang justru yang ditekankan dua stanza lagu kebangsaan yang kita abaikan.

Inilah yang kita abaikan selama ini: (stansa ke-2): Indonesia tanah yang mulya, tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berada untuk selama-lamanya. Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita berdoa: Indonesia bahagia. Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya, semuanya. Sadarlah hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya.

(Stanza ke-3) Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti. Di sanalah aku berdiri m’jaga Ibu sejati. Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi. Marilah kita berjanji: Indonesia Abadi. Slamatlah tanahnya, slamatlah puteranya, pulaunya, lautnya, semuanya. Majulah negerinya, majulah pandunya untuk Indonesia Raya.

Apa yang terjadi dalam kurun 60 tahun kita abaikan dua stanza ini. Tanah tak lagi subur, juga jiwa kita. Hati kita kering dan negeri ini dipenuhi konflik, bahkan berkekerasan dan berkepanjangan, karena budinya yang makin rendah.

Pada stanza kedua kita makin merasa prihatin, karena tak banyak yang mau berjanji Indonesia abadi. Akibatnya tak selamat tanah kita, banyak pencemaran, makin tak subur dan hutannya dijarah semena-mena.

Nasib para putra bangsa diabaikan, pulaunya hilang, lautnya dijarah nelayan-nelayan asing. Negeri ini tertinggal dari negeri lain, dan kita mengalami krisis pandu (pemimpin).

Sampai kapan kita akan mengabaikan dua stanza itu, yang juga bisa berarti mengabaikan cita-cita kemerdekaan?

Pembaruan/Sabar Subekti